Tidak terasa sudah 25 tahun aku meninggalkan masa sekolah di Sekolah Menengah Pertama yang terletak di kawasan pabrik penghasil pupuk yang pertama di Indonesia. Sekolah yang berdiri dengan bangunan beton yang kokoh dan terdiri dari sekitar 18 kelas terlihat cukup megah bila dibandingkan dengan kebanyakan sekolah menengah lainnya yang ada di kota Palembang. Sekolah Menengah Pertama ini dikenal dengan SMP YSP Pusri, sekolah yang memang dimiliki oleh PT Pusri dengan biaya penyelenggaraan sekolah yang memang disediakan oleh perusahaan tersebut.
Walaupun banyak tanaman yang tumbuh disekitar sekolah ini, namun entah kenapa lingkungannya tidak terlihat asri. Bangunan sekolah yang berbentuk kotak-kotak dengan cat berwarna coklat muda membuatnya terlihat seperti sebuah kekakuan, hampir sama dengan kakunya sikap sebagian para guru yang mengajar disekolah tersebut untuk tidak pernah mentolerir murid-murid yang dating terlambat pada hari Senin dan ketinggalan untuk ikut upacara bendera, atau juga sikap tegas mereka untuk melarang murid—murid berpacaran di sekolah dan suka memeriksa isi tas kami untuk sekedar memastikan bahwa tidak ada surat cinta di dalamnya.
Walaupun demikian, prestasi sekolah kami pada waktu itu lumayan banyak. Sekolahku itu pernah menjuarai lomba tari sekota madya Palembang, lomba upacara bendera sepropinsi kalau tidak salah selama 2 tahun berturut-turut dengan aku sebagai petugas pembaca Pembukaan Undang-Undang Dasar 45, lomba renang serta perlombaan dan pertandingan lainnya.
Saat kelas satu, kami bersekolah siang hari karena terbatasnya lokal yang ada. Aku yang terbiasa tidur siang sulit sekali untuk beradaptasi dengan waktu belajar ini, terutama saat jam menunjukkan angka 2 dan 3. Tidak jarang mataku terbuka menatap papan tulis tetapi pikiranku jauh melayang ke alam tidur sehingga saat pelajaran selesai aku tidak tau apa yang telah disampaikan oleh pak atau ibu guru. Namun yang paling aku suka kalau sudah hari Sabtu ! pada hari ini kami belajar hanya sampai jam 3 dan setelah itu mengikuti pacara penurunan bendera. Aku sering kali bolos dan tidak ikut upacara karena menonton film di bioskop milik perusahaan setelah mengganti celana pendekku dengan celana panjang yang aku bawa dari rumah.
Guru-guru yang mengajar disekolahku itu berpakaian seragam yang hampir sama dengan para pegawai PT. Pusri, hanya saja mereka tidak mengenakan lambang perusahaan karena mereka berada di bawah suatu Yayasan milik perusahaan. Dandanan mereka rapi dan terlihat perlente. Rata-rata mereka datang ke sekolah dengan mengendari sepeda motor yang sebagian besar dibeli melalui kredit guru. Hanya kepala sekolah yang selalu datang dengan motor suzuki 250cc dengan box di sisi kanan dan kirinya. Motor yang bercat putih itu hampir mirip dengan motor yang dipakai polisi lalu lintas. Setiap motor tersebut terlihat parkir di depan gedung serbaguna sekolah, entah kenapa aroma angker langsung menyelimuti. Tidak ada satupun muridpun yang merasa gembira jika harus berhadapan dengan kepala sekolah setelah berbuat salah atau berbuat onar.
Seragam kami putih biru dengan dasi berbentuk kali dililitkan dileher. Celananya masih celana pendek yang oleh sebagian besar murid laki-laki masih dipendekkan lagi dengan cara digulung. Murid lelaki dan murid perempuan sama-sama suka menggulung lengan baju, entah apa maksudnya. Padahal mereka tidak memiliki otot lengan yang besar dan bagus untuk dipamerkan, untuk mempertunjukkan bulu ketekpun belum bisa karena belum pada tumbuh.
Pada tahun-tahun kami di Sekolah Menengah Pertama, murid-murid yang orang tuanya punya uang lebih menggunakan sepatu yang saat itu terbilang mahal seperti adidas, puma, lotto dan nike dan umumnya berwarna putih. Sedangkan yang tidak punya cukup uang seperti orang tuaku hanya akan membelikan sepatu dengan merk yang biasa saja seperti kasogi, speeces atau lainnnya. Jadi saat itu mudah sekali untuk mengetahui mana anak orang yang kaya dan mana anak orang yang biasa. Namun itu bukan masalah, yang pakai sepatu mahal atau sepatu tidak mahal tetap bisa berteman dengan baik.
Bila jam istirahat antar pelajaran, biasanya kami segera menyerbu satu-satunya kantin yang berada di lingkungan sekolah. Aneka jajanan tersedia disini. Murid-murid berebutan supaya bisa mendapatkan jajanannya lebih dulu. Kantin ini milik orang tuanya Haris, teman sekolah kami. Mang Lukman dan Bik Em kami biasa memanggilnya dibantu beberapa anak-anaknya dalam menjalankan kantin ini, termasuk Haris sendiri. Disamping jajanan, kantin ini juga menjual buku-buku dan alat tulis. Kantinnya tidak terlalu besar, tetapi cukup lengkap untuk melayani keperluan sekolah.
25 tahun yang lalu, sekolah ini belum dipagar dengan ram kawat setinggi 3 meter seperti saat ini. Pagar yang mengelilingi hanyalah tumbuhan yang bernama latin Pluchea Indica atau yang lebih dikenal dengaan tanaman bluntas. Daun dan cabangnya yang rapat kerap kali dijadikan sebagai tempat bersarang burung-burung kecil semacam pipit, ciblek atau perenjak dan cinenen. Setiap pagi terutama bila semalamnya hujan turun, kicauan burung-burung ini masih bisa terdengar setiap kali aku melewati pagar bluntas tersebut. Burung-burung akan semakin ramai bila musim kupu-kupu tiba karena itu artinya sumber makanan mereka bertambah banyak, musim kupu-kupu artinya akan banyak ulat yang hidup di daun bluntas.
Kadang-kadang aku dan beberapa temanku saling dorong ke arah daun-daun yang masih basah tersebut sambil tertawa. Klorofil daun yang membekas hijau di baju dan basah tidak kami hiraukan, pokoknya tertawa dengan tanpa beban, bebas seperti kehidupan pipit, ciblek dan cinenen.
Disebelah pagar bluntas tersebut terdapat parit yang lebarnya 3 meter. Airnya cukup deras bila musim hujan tetapi surut saat hujan tidak turun. Kadang-kadang di parit ini tampak satu-dua ikan gabus yang saling berkejaran. Bila ada ikan gabus yang terlihat agak besar, kami spontan segera melepas sepatu, membuka baju dan segera turun ke parit saat pulang sekolah, bersama-sama mencoba menangkap ikan tersebut. Sesampai di rumah pakaianku selalu kotor karena kegiatan ini dan seperti biasa ibuku akan menjewer telinga dan memintaku untuk tidak mengulanginya lagi.
Bila aku bandingkan dengan kegiatan sekolah anak-anak sekarang, kegiatan disekolahku dulu sangat sedikit sekali, kebanyakan sehabis bubar jam belajar kami segera pulang ke rumah. Tidak ada acara belajar mengaji disekolah kecuali pada saat pelajaran agama, tidak ada kegiatan sanggar lukis, puisi atau tari, tidak ada pembinaan olahraga kecuali saat pelajaran olahraga. OSIS yang seharusnya menjadi wadah bagi pengembangan potensi dan bakat siswa sama sekali tidak berjalan optimal. Guru yang bertindak sebagai pembina OSIS pun seperti tidak tau bagaimana dia akan mengarahkan organisasi dan mengajarkan cara berorganisasi kepada pengurusnya. Sama sekali ketinggalan bila dibandingkan dengan kegiatan OSIS saat ini.
Saat kami menghadapi pelombaan upacara, latihanpun diadakan saat jam pelajaran sekolah berlangsung. Aku yang pada dasarnya malas belajar, semakin sering tidak mengikuti pelajaran di sekolah yang mengakibatkan nilai ulanganku pun semakin tidak karuan. Namun saat itu aku malah merasa senang karena bisa tidak ikut belajar di kelas. Bisa bebas dari mendengarkan celotehan guru yang bisa membuatku mengantuk, bisa bebas dari rasa kuatir kalau ditanya tentang apa yang sudah disampaikan mereka. Bah ! Belajar di kelas memang begitu menjemukan.
Pelajaran yang paling aku senangi saat itu hanya pelajaran menggambar dan pelajaran kesenian. Nilai menggambarku selalu delapan. Guru menggambar yang aku kagumi adalah pak Arbain yang saat ini sudah tidak tinggal di dunia lagi (semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang terbaik). Beliau jago gambar disamping juga guru agama. Tarikan gambarnya sangat bagus. Sangat berbeda dengan bu Nuraini yang saat ini juga sudah tidak tinggal di dunia lagi (semoga Allah juga menempatkan beliau di tempat yang terbaik), beliau bukan guru yang mempunyai bakat menggambar atau melukis. Aku tidak tau mengapa sekolah bisa menugaskannya sebagai guru menggambar. Ibu Nuraini sama sekali tidak mengerti bagaimana teknik menggambar atau melukis, tidak tahu bagaimana cara menggunakan cat air dan aku juga tidak tau darimana teori yang dia dapatkan untuk mengajar kami.
Yang paling brengsek menurutku adalah guru olah raga, seorang lelaki berkulit hitam dan berkepala separuh botak. Entah apa alasannya nilai olahraga diijazahku hanya di beri angka 6, padahal teman-teman cewekku yang tidak bisa berolahraga dan nilai teorinya juga aku yakin tidak sebesar nilaiku di beri angka 8. Setiap pelajaraan olahraga aku selalu bersungguh-sungguh, teorinya pun aku pelajari dengan baik. Saat ujian praktik tidak ada yang tidak bisa kulakukan. Push-up, sit-up, lari, loncat kodok, teknik oper bola dalam basket, drible dan lainnya aku lakukan dengan hasil yang baik. Angka 6 ??? Alamak, sungguh nilai yang tidak pantas bertengger di ijazahku. Kesukaanku pada olahraga sampai kini masih ada, aku masih sering ke gym untuk membuat tubuhku tetap sehat.
BERSAMBUNG .....